Diposkan pada Tanpa kategori

Indah Tanpa Pacaran

Cinta adalah sebuah kata pendek yang bermakna lebih dari satu tergantung pada konteks yang dibicarakan. Barangkali banyak yang membicarakan masalah cinta pada konteks yang berbeda. Bahkan mencampur adukan dengan berbagai permasalahan yang bisa dikaqtakan tidak logis. Kadang membicarakan masalah seperti itu hanya mengandalkan sebuah opini yang berdasar pada suara hati bahkan sebuah pengalaman. Padahal jikalau masing – masing pribadi menganalisa lebih dalam, itu hanya sebuah bisikan yang mengundang ke sebuah lembah tak bercahaya, hitam kelam dan gelap. Yang dikatakan disini adalah mengenai fenomena – fenomena yang berasal dari kebudayaan barat. Sekarang telah menggasak para pemuda yang relatif. Labil juga masih berdarah muda yang segar, emosional masih tidak stabil. Memang benar dan nyata hal itu ada.
Pacaran adalah sebuah istilah belaka yang tak kuketahui bibitnya berasal dari mana dan dari siapa. Banyak di luar sana mengatakan hal demikian tanpa mengetahui apa itu maknanya juga mengetahui secara keseluruhan. Bisa dikatakan bahwa pacaran berasal dari kata pacar. Yang berarti bisa kita menangkap langsung, itu adalah sejenis tanaman pacar air yang berbunga variasi warnanya, berharga murah, tidak tahan lama. Bisa anda simpulkan sendiri.
Pacaran sepertinya bukan hal yang tabu di telinga masyarakat luas. Mungkin istilah itu telah menyusup ke semua lapisan masyarakat, tanpa memandang reputasi ataupun kredibelitas seseorang. Tak memandang kondisi ekonomi. Tapi mudah dicerna dan begitu renyah bila dibicarakan. Tapi begitulah fakta di lapangan. Bahkan banyak cabang – cabang pemikirannya apabila telah membicarakan hal itu. Mulai dari hal kecil tak terlihat atau hanya sebatas obroln akan menyulut ke pembicaraan yang lebih ekstrem. Begitu susah beranjak. Serasa lekat. Entah ada bumbu apa yang begitu menggoyang hati dan lidah.
Pacaran begitu merebah luas di masyarakat baik dunia pendidikan ataupun dunia – dunia penting lainnya. Dn mayoritas itu adalah dunia pendidikan yang pada hakikatnya untuk menumba ilmu dan menambah pengetahuan lainnya, ternyata dirusak perlahan. Miris bukan. Mungkin sebagian dari Anda ini hanyalah masalah sepele yang dibesar – besarkan dengan mengadopsi opini banyak orang, bagiku ini tidak. Fenomena ini harusnya ditindak lanjuti dengan langkah – langkah persuasif dan matang. lalalalalaa
Fenomena yang dari dulu hingga sekarang bahkan hingga masa depan ini akan terus saja membudaya bahkan akan dicetuskan menjadi sebuah keharusan.
Apakah pacaran salah satu metode menuju jenjang pernikahan?
Sepertinya tidak. Itu hanya sebuah opini yang mengular dan turun temurun dari senior – senior yang pernah melakukan praktek tersebut. Melihat pertanyaan tersebut, bagaimana jika yang melakukannya adalah para anak -anak yang masih berada di bangku sekolah? SD misalnya, menikah? Usia anak – anak yang masih keluar ingus dan belum bisa membersihkannya akan meniti ke pernikahan? RuSAK. Beberapa puluh tahun lagi. Mereka yang masih duduk di bangku SMP? sepertinya sama saja layaknya anak SD, air matamu tiada guna kaku keluarkan dengan alasan cinta. SMA? Barangkali ini konteks yang berbeda, tapi sebenarnya sama saja layaknya SD, SMP. Mahasiswa? Sepertinya sama saja. Coba diteliti lagi baik2. Menikah memang sebuah sesuatu yang disesuatukan. Sesuatu yang suci nan sakral. Tapi apakah ini hal yang logis apabila kegiatan pacaran dilakukan para penuntut ilmu dengan alasan menuju jenjang pernikahan. Segalanya dari berbagai sisi mungkin masih ditanggung orang tua, mau kasih makan anak orang? Mungkin no problem bagi yang sudah punya penghasilan. Coba hidupkan berfikir rasional mengenai sisi pacaran, termasuk efek – efeknya…
Pacaran itu tiada guna. Selain dilarang dari sisi agama juga tidak baik bagi sisi lainnya. Dari sisi agama mungkin itu termasuk zina. Pdahal mendekati zina saja itu sudah dilarang apalagi zinannya. Zina mata dengan melihat. Zina telinga dengan mendengarnya. Zina tangan dengan menyentuh, meraba. Zina kaki dengan melamgkah. Zina hati dengan berangan – angan. Disini bukannya saya munafik mengenai bab pacaran. Tapi memang tiadak ada manfaatnya. Bagi anda yang pelajar apalagi sekelas SMA, mungkin disitu saat – saat yang dikatakan masa indah usia sekolah. Kondisi labil dan emosional serba serba tahu yang tinggi meungkin akan menanggapi berbagai hal akan berbeda ketika berfikir di bangku SMP. Cinta layaknya sebuah susunan kata yang diungkapakan dan diaplikasikan menjadi pacaran, entah itu dengan istilah HTS, atau ;lainnya selain pacaran.Tetap saja sama saja bung. Anda yang saling mencintai tanpa memakai istilah pacaran tetap aja itu dicap sama saja. Selain mempengaruhi pikiranmu juga akan mempengaruhi proses belajar. Mungkin sebagian besar para pelajar ataupun mahasiswa, pacaran itu untuk penyemangat. Saya rasa itu tidak, itu adalah modus. Belajar itu adalah sebuah keharusan. Selain kita bertanggung jawab terhadap orang tua yang sudah membiayai kita tidak juga bertanggung jawab terhadap pihak – pihak terkait proses pembelajaran. Pacaran itu merusak otak dan cara berfikir lebih baik. Bagaimana mau fokus belajar orang yang difikirkan adalah pacar? Iyakan? Mempengaruhi mood belajarmu selama engkau pacaran, bahkan selalu bad mood ketika pacaran bukan? Tiada prestasi tapi hancur nilai sekolahmu. Bhkan ada yang minim teman karena ada yang dikekang karena dilarang mengenal teman wanita ataupun lelaki. Iyakan? Coba apa untungnya pacaran bagimu? Barangkali suatu jetika dengn pacaran prestasimu dalam kondisi baik dan stabil. Tapi saya percaya, tak akan semulus itu… silahkan ditunggu saja,, Intinya tiada guna, bahkan saya endiri hampir hancur dari hal itu, pengalaman haha. Tak hanya hancur dari sisi prestasi, spiritual bahkan finansial anda juga akan hancur. Coba difikir dan diingat – ingat. Kalkulasikan keuangan anda ketika pacaran. Dari pemasukan orang tua hingga menjadi pengeluaran untuk kencan. Tidak sedikit bukan? Memakai uang untuk hal – hal yang tiada manfaatnya. Selamat merenung.
Mungkin bagi yang sudah bekerja oke – oke saja, itu anggapan banyak orang, kalau bagiku sih itu tidak berlaku sekarang,,,,,, kerja, gajian kencan, bahkan kencan tak cukup ekali dua kalii dalam sebulan…. bla bla bla,,, bahkan kita akan melakukan hal yang lebih dari sebuah rencana..
Intinya semua itu tiada guna, itu merusak mental, moral, spiritual… Bahwasanya tiada pacar sholehah, tapi yang ada itu istri sholehah dan suami sholehah. Baraangkali pacarmu menjadi imam sholatmu, itu tetap saja tidak mempengaruhi nilai apabila itu adalah pacaran,,,, Lebih baik melaukan hal lain saja. Cinta tak perlu diungkapkan jika terselip dalam hati yang paling dalam bahwa anda akan pacaran, Jangan. Dipendam saja cukup, ceritakan pada Rabbmu, Dia lebih tahu segalanya. Sesuatu yang suadah dicap tidak baik seperti pacaran tetap saja tidak baik. Tiada istilah pacaran islami karena pada dasarnya islam tak mengenal pacaran, yang ada ta’aruf. Seperti apapun penjagaan dirimu ketika berdua yang ketiga adalah syetan yang akan selalu membujukmu dan mendorongmu ke hal hal yang dilarang agama, itu melalui suara hatimu bukan dari jiwamu. Bujukannya begitu nikmat, sedap dan wah… Jngan mencoba. Putuskan pacarmu, atur kembali ekspetasi masa depan menjadi sebuah rencan gemilang,, Hidup indah tanpa pacaran.
Maaf jikalau tak menuliskan ayat -ayat atau hadist Nabi,,,,
Iklan

Penulis:

Asal Kebumen, mencintai gadis Garut (h). Penyuka tahu isi dan pesekmu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s