Diposkan pada Argument, Cerita, Ilusi dan Imajinasi

Serpihan Kaca Sebelah

Mereka menyebutnya dengan sebuah cinta. Cinta yang notabene tak mendiskriminsi usia berapapun akan tetap meluncuti sebuah selimut yang disebut komitmen dan konsistensi anticinta no pacaran. Terkadang begitu hebatnya sebuah cinta meluluhkan kadar pondasi yang dibangun sedemikian rupa pada hati. Namun pada realitanya tak sedikit pula yang mampu bertahan akan goncangan yang menggoyahkan kalbu. Tapi bukankah itu sesuatu yang normal, bahwasanya Allah menganugrahkan sebuah cinta pada setiap hambanya dengan kesucian yang masih benar – benar suci laksana kain putih bersih tanpa noda. Hanya saja bagaimana manusia menyikapinya dengan bijaksana dan mengikuti syari’ yang sudah dipaparkan dalam hadist.

Cinta adalah anugrah yang mewarnai hidup menjadi lebih hidup. Ibarat taman berbunga dengan harumnya yang bertebaran sampai tercium oleh hidung. Ada sebuah pemandangan yang merilekskan sanubari dan mood. Itu hanya sebuah perumpaan belaka yang kadang tak bermakna.

Bagaimana dengan cinta???
Cinta dikatakan turun dari mata ke hati. Tapi bagiku cinta turun dari suasana ke hati. Tapi mungkin saja setiap hati memiliki pepatah masing – masing mengenai sebuah cinta. Mungkin karena mereka memiliki pandangan masing – masing akan itu.

Cinta sepertinya bukan sesuatu yang aneh bagi setiap jiwa. Cinta akan menyentuh setiap mata dan hati dengan berbagai cara dan alasan yang terkadang terkesan tidak logis. Tapi itulah sebuah kenyataan yang terkadang menjadi sebuah tema dilur pembicaraan. Hahaa

Apakah aku memiliki cinta? Tentu saja. Sebagai lelaki normal yang masih muda dan single tentu punya cinta. 😀 Walau dalam proses pencarian yang sebenarnya itu hanya argumen belaka karena aku tak mencarinya secepat mungkin. Mengikuti saja waktu yang berjalan sedemikian rupa dengan stabil.
Pasangan hidup adalah istri yang sesuatu bagiku. Istri dengan kriteria tertentu. Istri? Sudah punya pacar? Ternyata belum hahaa.

Mereka diciptakan dari suasana berbeda – beda dan alasan yang berbeda pula. Dengan dasar hati yang berbeda dan pendirian yang tak sama. Prinsip yang terkadang tak dikokohkan lebih dini membuatnya mudah terombang – ambing. Tak jelas tanpa tujuan apa yang sebenarnya dicari.
Begitu juga dengan hati. Sebuah ruang yang dipenuhi segala suasana dunia luar dan dalam dengan nuansa berbeda. Terkadang permasalahan disini adalah tingkat kedewasaan. Karena umur tak menjamin matangnya pola pikir dan kedewasaan.
Apalagi dengan kebudayaan barat yang berhasil menyeruak kebudayaan timur yang notabene menjunjung nilai agama. Tapi apa mau dikata? Budaya pacaran telah menjamur di musim globalisasi seluruh dunia termasuk Indonesia. Tapi sepertinya hal itu tak diambil pusing toh itu adalah urusan hati masing – masing. Mereka berhak mencari kebahagiaan masing – masing dengan berbagai cara apapun entah itu sesuai dengan norma dan etika ataupun tidak.
Terkadang yang terlahir di kelurga dengan nuansa islami juga belum tentu seberapa benar dirinya meneliti tentang cinta, pacaran? Apalagi yang terlahir di luar itu. Tapi tak semuanya seperti itu.
Manusia dan cinta hanya butuh rasa tanggung jawab. Butuh konsistensi dan kepekaan hati. Cinta bukan sembarangan rasa yang dapat dipermainkan begitu saja sesuka hati ataupun mood. Tidak? Walau terkadang cinta dianggap sepele oleh beberapa orang tapii asapnya akan terasa mengepul.
Cinta yang menghinggapi hatimu itu hal suci yang harus disyukuri bukn dengan sebuah permainan yang kadang kusebut petak umpat. Nongol disini bersembunyi disana ataupun sebaliknya.

Aku pikir begitu pentingnya meneguhkan hati dengan komitmen yang dibangun sendiri. Cinta tak bisa dibagi dengan berbagai cara apapun karena itu adalah penghianatan tersakit yang akan menderanya.
Bukan harus mencari lelaki yang dianggap pantas dan diintrogasi dengan berbagai pertanyaan. Bukan pula dipoles dengan berbagai perhatian yang dianggap memuluskan sebuah komunikasi. Itu seleksi yang menyakitkan para lelaki walau itu bisa kusebut perjuangan. Aku pikir gadis yang lebih bernilai masih banyak di luar sana yang lebih bisa menjaga image dan siapa sebenarnya. Harga diri. Walau terkadang kecantikan itu prioritas utama karena yang pertama dipandang.
Terkadang diseleksi dengan diam tapi lelaki dengan kepekaan tinggi akan merasakan hal itu, ibarat itu sebuah kompetisi tapi hati bukanlah barang taruhan yang menjadi target utama.
Sepertinya sekarang tinggal tersisa dua lelaki dihadapanmu setelah butuh waktu menyeleksi diam – diam tanpa disadari mereka. Mungkin dengan berbagai alasan berbeda yang terkadang terkesan tidak logis di logika para lelaki. Iya tapi itulah realita yang harus disadari. Silahkan tanyakan pada lelaki. Kenapa tidak mengutarakan alasan yang logis, because aku tidak memiliki rasa padamu, apalagi cinta.
Perhatian lelaki terkadang itu sebuah senjata untuk meluluhkan hati wanita. Tapi di sisi lain, wanita harus benar – benar peka akan perhatian lelaki. Mana yang sekiranya ikhlas dan lebih nyaman di hati lalu itu membuatmu susah tidur.
Hati bukanlah barang murahan dengan bermain sebuah drama dari skenario yang diprogram sedemikian rupa.

Di hadapanmu ada 2 lelaki dengan latar berbeda – beda dan dengan hati yang tak sama pula. Punya sisi kedewasaan yang tak akan ditemui lelaki lain kecuali dihadapanmu. Setidaknya engkau bisa menatap masing – masing hati dan mata mereka dengan kesungguhanmu. Ada cinta disana dengan kadar yang berbeda pula. Punya alasan tersendiri dengan cinta yang ada dihadapannya. Tengok mereka punya apa untuk menjaminmu.
Lelaki bukanlah barang mainan lucu laksana boneka yang bisa dipeluk tiap malam. Mereka juga perlu sebuah kejelasan.
Bukan pula sebuah batu loncat untuk dihinggapi kesana kemari. Dengan waktu yang sama ataupun berbeda.
Cintailah salah satu saja dengan bertanya pada hatimu yang terdalam. Dengan merenung pada suatu malam yang sunyi atau mungkin dengan mimpi yang pernah kau selami. Ada mutiara disana dengan nama tertulis indah dan rapi. Konsistensi dengan apa yang dikatakan ” i love you too “. Itu sebuah tanggung jawab yang menjadi rekam jejak. Bahwasanya lelaki juga memperhitungkan rekam jejak seorang wanita sebelum menuju ke sesi berikutnya.
Apakah ini sebuah egoisme? Ataukah kecemburuan?
Mungkin ini sebuah curahan bisu yang kuambil dari pikiran bawah sadar. Alam bawah sadar yang membentuk sebuah siluet dan harus diparagrafkan menjadi sebuah tulisan.

Konsistensilah atau akan ditinggalkan?
Mencari itu tak mudah apalagi mendapatkan?
Ungkapan itu tanggung jawab.

Jangan menyakiti lelaki dengan singgah kessana dan kemari tanpa memiliki alasan yang logis. Karena sepertinya cinta adalah bukan alasan.

Atau boleh jangan singgah padaku? He’em
Lebih tepat jangan memberi sebuah harapan yang bernada mesra dan nuansa berbeda.

Dikutip dari : serpihan kaca sebelah.

Iklan

Penulis:

Asal Kebumen, mencintai gadis Garut (h). Penyuka tahu isi dan pesekmu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s