Diposkan pada Ilusi dan Imajinasi

Candu

Kau adalah candu yang ketika ku kecup mesra perlahan tiada rasa puas menjalari bibirku. Menyimpan rasa nyaman yang terasa menepis sepi. Dengan memejamkan mata meresapi tiap inchi ketika bibir menyentuh secawan yang dilekati rasa nikmat. Nikmat cinta yang leluasa mengisi rongga dada menjadi rasa rindu yang menggebu. Membasahi lorong asmara yang menikam keputus asaan.

Kau adalah candu yang ketika kutatap tiada sesuatu yang tak mampu ku lewati. Meneliti setiap yang tampak di depan mata. Menatap anggun teduh wajahmu sebagai penawar rasa rinduku. Mencium aroma wangi tubuhmu yang sukar dilupakan. Semerbak merasuk hidung menjadi belenggu yang mendera hati menjadi seonggok rindu.

Kau adalah candu ketika ku dengar desah nafas menderu menyeruak ke telingaku. Suaranya halus selembut sutra tiada nada fals terhimpit dalam senandung yang kau lagukan. Hanya ada serak basah suara yang singkron dengan tangga nada mayor dan minor. Begitu merdu mengalun merasuk kalbu. Menjadi sebuah asmara yang tak mungkin sirna.

Kau adalah candu ketika ku pegang erat jemari lentikmu. Halus licin tiada kasar di bagian manapun. Melekatkan jemariku pada tiap inchi tanganmu. Menyatu menjadi sebuah lagu yang beradu pada masing – masing kalbu. Memercikan rasa cinta yang senada menjadi sebuah cerita. Darah berdesir hati bergejolak ketika ku cium perlahan jemarimu. Tiada rasa bosan jikalau selalu ada jemarimu menutupi kekosongan jemariku.
Kau adalah candu ketika kupeluk tiada rasa selain hangat menyelimuti tubuhku dan tubuhmu. Ku dekap dengan balutan cinta kasih sayang. Supaya tiada rasa ragumu merongrong menyinggungku. Dengan berat rasa kehilangan telah merasuk dan mengalir dalam darah.

Kau adalah candu ketika senyummu menarik ulur hatiku. Manis bagiku menghimpit sepi. Merajam rasa rindu ketika datang malam kelam. Bibir tipis merah ranum nan seksi begitu menghias semakin anggun. Darahnya merata yg diluarnya tampak polesan warna merah muda.

Tiada mudah melupakakan sosok itu. Laksana bidadari surga walau aku belum pernah melihatnya. Secantik dewi yang dipuja banyak orang. Secantik engkau pula sebagai canduku. Candu yang tiada ku temukan di sisi dunia manapun.
Adakah kalimatku terlalu sederhana untuk ku maknakan pada engkau? Kalimat yang ku cerna dari desahan nafas ini yang menderu. Dari angin yang menggesek dedaunan menjadi sebuah nada asmara. Dari malam yang kelam ketika dingin menembus kulit. Juga dari deru kendaraan siang malam yang merongrong memecah sepi hati.
Aku tiada mampu menggodamu. Yang jelas aku cinta setulus mentari menyinari bumi.

Facebook :

Dian Purwanto

Iklan

Penulis:

Asal Kebumen, mencintai gadis Garut (h). Penyuka tahu isi dan pesekmu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s