Diposkan pada Ilusi dan Imajinasi

Engkau Masih Tertidur

Pagi mulai merangkak menghampiri seutas benang putih yang masih jauh di disana. Tak bisa ku jangkau begitu saja. Hanya dengan imajinasi yang beradu dengan pola pikir, buntu. Tiada ku tahu kelanjutan sebuah cerita berdasar atas karangan. Karangan yang tak pernah usai dalam waktu panjang. Masih tetap menjadi sebuah pekerjaan yang sukar disentuh dan dilanjutkan menjadi bait – bait indah. Waktu. Waktu mempengaruhi daya pikir imajinasi. Mengusik ide dan cara pandang atas logika.

Pagi belum nampak juga di depan mata. Masih berlatar belakang gelap yang mendekap. Masih berteman dengan kabut yang tak menyambut rasa hampa yang mendera. Dingin pula tak berkutik seolah tetap diam mendekam dengan kelam. Tiada suara deru angin yang menjadikan tubuh ini menggigil. Tampak sepi nan syahdu.

Jantung berdetak seolah dada pecah dan retak. Jiwa seolah tak berdaya dan bibir diam tanpa kata. Tak sepatahpun memecahkan sunyi yang sepi. Ahh, adakah yang bisa ku ajak bicara barangkali sepatah dua kata bertajuk rindu? Heem rindu yang menderu dalam kalbu ingin bertemu kamu. Engkau yang barangkali pagi ini masih tertidur pulas dalam dekapan hangatnya selimut polos. Warna putih keabu-abuan.

Engkau. Itu engkau. Ku sebut namanya perlahan dalam diam. Dalam bergetarnya bibir menahan rindu. Adakah engkau pernah serindu ini? Merasakan manisnya rinduku berbalut madu. Tiada kau temui pada jiwa lain selain di sini. Benar di sini.

Aku masih menyebut namamu sambil menunggu pagi datang sampai pergi menghilang. Berharap terselip senyummu yang sederhana menyejukan jiwa. Sesungging begitu cukup melemparkan putus asa yang membalut jiwa ini. Barangkali boleh lebih dengan renyah tawamu yang malu hingga merem. Memejamkan mata sebagai refleks tawamu.

Entah kenapa pagi ini susunan kata begitu rancu tak bermakna dalam. Terselip sebuah suasana hati yang tak terkoordinir dengan baik. Serasa ada gejolak yang meledak. Agresif memberontak. Mengecam jiwa mendera panca indra.

Aku tiada bisa beranjak dari rindu yang tengah membeku pagi ini. Rindu yang melekat walau terkadang stagnan. Tetap masih ada seonggok rindu yang tertinggal di sini. Menyambutmu dalam terbukanya kedewasaanku kelak. Menyambut tanganmu dalam kelembutan. Barangkali mampu menghapus sisa air mata yang selalu berderai. Didera keterasingan dan ketidakadilan atas orang sekitarmu. Sesakmu adalah sesakku juga. Nafasmu adalah nafasku jua yang tak pernah lenyap. Tangismu adalah sedihku. Walau ini sebuah istilah belaka yang terkadang tanpa makan. Bagiku ini makna perumpamaan karena susah berterus terang.

Dan engkau masih tertidur pulas. Lucu – lucu wajahmu laksana bayi bawah tiga tahun.

Iklan

Penulis:

Asal Kebumen, mencintai gadis Garut (h). Penyuka tahu isi dan pesekmu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s