Diposkan pada Ilusi dan Imajinasi

Maukah?

Ketika kita akan dipertemukan oleh waktu. Bertatap mata tanda tak mengerti siapa. Hanya berfikir masing – masing. Mengingat dan membuka memori yang tersimpan. Ada seulas senyum yang mengambang di bibirmu. Masih manis sayang. Manis tiada banding dengan bibir yang lain. Lekas ingin segera kuraih dan kudekap mesra. Tak mungkin. Kau tak semudah itu menerima dekapan lelaki di tempat umum, di tempat wisata barangkali. Atau di sisi jalan yang melintang dari utara ke selatan. Ada tanjakan tinggi. Itu pegunungan. Entah dimana iya mengakar sekarang mencengkeram bumi. Hawanya tak panas juga tak dingin. Balance menyejukan hati.
Adakah kita dipertemukan dalam keterasingan yang mendesing? Dalam sepi hati yang menepi? Atau dari kebersamaan yang terikat batin? Waktu masih bisu sekarang. Belum ada lonceng yang berbunyi. Masih diam membatu bahkan belum terbentuk. Di sini kita sekarang. Dalam pencarian jati diri dan berjuang. Untuk cita – cita dan keluarga. Masih polos tiada mengerti goresan alam yang terlukis dalam banyak media. Masih bersenang – senang dalam telanjang pola pikir.
Ada suatu ketika engkau tengah sibuk memegang pensil. Menari menggerakannya menjadi sebuah lukisan. Dari tuangan ide yang tersembunyi di dalam diri. Diindahkan dalam karya yang memukau. Itu pakaian harapanmu kah? Sebuah desain gaun indah bernilai seni. Corak warna sentuhan modernisasi. Sentuhan kasih sayang dengan menunggu cinta. Mencari cinta. Aku yang memang saat ini berjuang keras mempertahankan proposal finansial. Mengatur secara cerdas pola finansial yang tak beraturan. Sedikit demi sedikit. Mungkin demi mampu melihat gaun indah di sampingku, beserta isinya. Bahwasnya waktu akan mempertemukan kita dalam keadaan tak terduga. Aku ingin ini sebuah rencana besar waktu. Sebagaimana waktu berjalan stagnan.
Senyumnya masih sama juga dengan bibir tipis dua lapis mengapit. Basah dan merah muda. Mempercantik pesona wajah nan anggun. Itu yang kusukai. Pipinya masih lembut dan penuh. Menjepit jalan nafas yang mungil lucu. Cahaya matanya tidak temaram. Hitam pekat melekat pada jiwaku. Senyumnya melebar tak hentinya dengan kelihatan giginya yang khas. Menjatuhkanku pada sebuah kondisi tak konstan. Menyalahkan mataku dan bibir. Menggetarkan hati hingga bergoncang hebat. Menyusup ke jiwa. Itu kamu kah? Kita tak pernah bertemu dalam rencana kita sendiri. Sering terbungkam dan dibungkam. Tapi tiada pernah menyakiti.
Masih ada kemesraan yang tersimpan lembut dan rapi. Manja meratapi jiwa untuk memanggil nama. Itu di sebuah tempat hijau nan anggun. Rerumputan disana sini menghijau anggun dan serasi.
Kadang berfikir masih tak percaya juga pada keadaan. Ini apa? Sebuah bunga tidur yang indah? Atau intermezzo asmara periklanan. Mari berbincang sana sini. Duduklah mendekat, aku tak akan menyakiti sedikitpun. Berceritalah padaku. Tak perlu pada malam kelam mengenai sebait rindu. Kini ada aku di sampingmu, akan bertahan dalam satu kondisi sejiwa., berdampingan. Mau kah?
Aku bertahan disini, tak jauh darimu, hatimu. Ada aku di sini, biarpun jauh tak tersentuh.
Iklan

Penulis:

Asal Kebumen, mencintai gadis Garut (h). Penyuka tahu isi dan pesekmu. Persiapan Mahar Ar Rahman, 2021 Insya Allah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s