Diposkan pada Cerita, Tanpa kategori

Perusahaan Ecek – Ecek?

project-2.jpgcarikerja.jpg

”Harga diri seorang lelaki adalah bekerja” . Mungkin kita sering membaca mengenai kalimat disamping. Atau mungkin mendengarkan secara nyaring dari siapapun. Memang banyak persepsi mengenai hal itu. Lantas bagaimana dengan perempuan? Ohh aku serasa belum pernah mendengarnya mengenai hal itu, bahkan tanpa sadar aku menuliskan hal itu. Tapi disini saya tidak akan mengupas mengenai laki-laki atau perempuan. Tetapi secara universal saja, secara keseluruhan pastinya.

Disini saya posisikan sebagai diri saya sendiri dan argumen sendiri tanpa ada doktrin dari pihak manapun. Ya harus punya alasan dan prinsip yang logis, pakai.

Di jam kerja shift 3 ini ditemani lantunan lagu Relaxing Instrumental Music berdurasi 9:08:50 sambil membaca status facebook. Terbersit memang sebuah ide yang mungkin seperti biasa saja rupanya. Ahh bertele-tele. Baik saya langsung pangkas sekalian.

Pengaruh ekonomi global yang menggoncangkan perekonomian Indonesia khususnya membuat semua sektor industri ataupun yang lainnya menggeliat. Bahkan mempengaruhi ke seluruh lapisan masyarakat dan sampai saat ini. Perusahaan besar sekalipun sampai harus mengerahkan para karywannya di bidang yang bersangkutan untuk memikirkan langkah apa yang hendak diambil. Karena yakin keputusan bukanlah sembarangan keputusan yang diambil. Tetapi menyangkut hak orang banyak yaitu para karyawannya. Kondisi perekonomian yang melemah dengan daya jual yang menurun drastis dan banyak pendingan itu bukanlah hal yang mudah, tapi berdampak besar terhadapa ambil keputusan untuk merumahkan karyawannya. Alias PHK (Pemutusan Hubungan Kerja). Apa yang terjadi apabila hal itu terjadi? Dengan kapasitas pengangguran yang sudah tinggi sebelumnya tentu menambah jumlah yang spesifik juga. Menjadi Pekerjaan Rumah yang harus dituntaskan. Bagaimana upaya pemerintah mengenai hal ini? Dengan pola fikir yang berbeda – beda, argumen yang berbeda, usia dan opsi lainnya. Pro dan kontra pasti terjadi.

kerja.jpg

Di atas hanyalah sebatas pembukaan saja.

Ini dia……

Terkadang saya emosi sendiri mendengar perkataan teman, tetangga, kerabat, sahabata atau yang lainnya ketika mengucapkan “perusahaan abal -abal”. Segampang itu melontarkan tanpa logika atau fikir panjang. Weleh – weleh. Entah apa yang yang ada di fikiran mereka saat itu. Lha mbok ya jangan bilang begitu, apakah tidak ada bahasa lain yang lebih lembut? Setidaknya kita mengenyam pendidikan sekitar 12 tahun, adakan Bahasa Indonesia? Kadang geram memang tapi apalah setiap manusia memegang prinsip yang berbeda – beda. Apakah setidaknya kita tidak bisa menghargai sesuatu?

Zaman sudah terkontaminasi oleh banyak aspek yang rumit. Latar belakan pendidikan yang didominasi setaraf SLTA memang tidak cukup untuk membangun pola pikir lebih logis. Perlu sentuhan dunia lain yang setidaknya mampu memoles attitude lebih relevan. Tingkat pendidikan dan doktrin orang tua ataupun teman sepermainan memang berpengaruh besar terhadap pandangan masa depan, bekerja misalnya. Iya bekerja mencari uang uang uang dan uang sebanyak – banyaknya.  Saya akui memang mayoritas di sekitar saya yang berpendidikan minimal SLTA lebih banyak melanjutkan petualanagn di dunia kerja. Yang saya amati dari sekian banyak lulusan adalah target perusahaan industri bonafit perusahaan terbatas ( PT ). Ya itulah mayoritas yang merka kejar. Tidak ada yang salah memang mengenai sebuah pilihan toh itu adalah hak pribadi masing – masing untuk meningkatkan taraf hidup mungkin. Mlihat history dari alumnus tahun sebelumnya mayoritas memang begitu, kejar industri. Dengan alasan yang logis memang ; bergaji tinggi staraf UMK dan fasilitas lainnya. Dengan nominal gaji yang fariasi memang dari 4 juta – 15 juta. Angka yang fantastik memang buat saya pribadi, toh gajiku belum pernah sampai segitu, hahaa sedih.

Dari pengalaman yang sudah terdengar langsung di telinga saya sendiri sih begini. Ada teman saya yang bertanya.

“bro kerja nang ndi?” (bro kerja dimana?)

“Di PT anu, PT ecek – ecek lah” (Di PT anu, PT jelek, berantakan_kesan negatif)

Dari bahasa yang tidak kooperatif itu secara pribadi kadang aku ngelus dada. Betapa masih ada yang masih berkata seperti itu. Apakah ketika melontarkan hal tersebut tidak ada pikiran lain yang lebih baik? Untung dia masih mau merekrut sebagai karyawannya dengan gaji sesuai aturan yang berlaku, UMK. Coba kalau dibawah itu? (Kaya perusahaanku bekerja). Ya setidaknya disyukuri saja, tinggal dijalani saja. Semua memang ingin sesuatu yang lebih baik bukan.

Lihat saja, semakin banyak lulusan bukan semakin meluas pula lapangan pekerjaan. Faktanya semakin sempit saja. Dengan pemberlakuan sistem kerja kontrak, ketika masa kontrak habis ya sudah langsung ditendang, bukan begitu? Kerja tidak usah terlalu muluk – muluk nganu dan nganu, yang penting disyhukuri saja apa adanya, Insya Allah berkah ko.

Fasilitas perusahaan memang berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya, tergantung dari sektor yang dikerjakannya dan gajipun berbeda – beda untuk masing – masing sektor.

Bersyukurlah saja masih bisa bekerja biarpun kontrak ataupun sudah karyawan tetap. Di luar sana masih banyak yang menenteng ijazah kesana kemari mencari pekerjaann melamar kesana kesini. Umpel – umpelan di Job Fair atau acara lainnya. Tak hanya dari SLTA, dari tingkat D3, S1,S2,S3 pun banyak yang mencari. Setiap tahun angka itu selalu merangkak naik, ditambah lulusan baru, ditambah dengan yang habis kontrak dan PHK. Ekonomi semakin mencekik, mencari pekerjaan semakin sulit. Apalagi yang mematok umur sekian sampai sekian. Jangan sombong sekarang lagi kerja enak gaji tinggi, enjauhi teman dan lainnya. Kita berasal dari jajaran yang sama, pejuang bersma di bangku sekolah.

Yang terpenting ayoo semangat kerja, keluarkan kemampuan kita sesuai bakat masing-masing. Berdedikasi untuk perusahaan Kalau gaji tak sesuai UU, resign cari perusahaan lain tak usah banyak omongan.

Yang penting berjuang dulu, proses tidak akan pernah berbanding terbalik dengan hasil.

Bagaimanapun reputasi perusahaan, dialah yang menghidupi kita dan keluarga kita.

JAGALAH NAMA BAIK PERUSAHAAN SEKALIPUN TIDAK MEMBUAT KITA KAYA, SETIDAKNYA MEMBUAT KITA HIDUP

Selamat berjuang. Beli motor, mobil, rumah, naik haji, nikah. Aamiin.

 

Iklan

Penulis:

Asal Kebumen, mencintai gadis Garut (h). Penyuka tahu isi dan pesekmu.

2 tanggapan untuk “Perusahaan Ecek – Ecek?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s