Diposkan pada Tanpa kategori

​Minggu. Identik dengan kelengangan jalan raya di kota besar, Kota Bandung. Tidak lengang amat. Hanya volume kendaraan yang berkurang. Cuaca yang tidak stabil, panas dingin silih bergantii dengan durasi yang stagnan. Peduli amat dengan perubahan itu. Tidak berpengaruh bagiku. Tapi sepertinya berbeda juga rasanya. Ada sesuatu yang hendak ku agendakan rupanya. Bukan sebuah jadwal atau apa. Sederhananya sebuah pertemuan saja. Pertemuanku dengan dia. Bukan atas dasar apa, yang pastinya untuk alasan kuat demi kakaknya itu, menitipkan surat lamaran pekerjaan di tempat kerjaku. Iya itu yang membuat kami ingin lekas bertemu, alasan yang logis memang. Tapi apakah ada tujuan lain yang terselip di dalamnya? Ada bagiku, entahlah bagi dia. Yang jelas sih ini pertemuan perdana. Sekitar perkenalan lama sekitar 2 tahun lebih. Tapi sanggup bertahan.
Mendung, pasti akan turun hujan entah di jam berapa. Tapi melihat history hari sebelumnya, yang pastii diatas jam 2 siang. Aku tidak peduli dengan hal itu. Yang penting saya bisa bertemu siapa yang kusebut – sebut pesek. Demi apapun dech rela. Akhirnya berangkatlah juga saya menuju tempat kesepakatan kami di daerah Ujung Berung, Alun – Alun Ujung Berung. Tanpa kendaraan bermotor tapi via kendaraan umum saya meluncur kesana. Dan mendung semakin menjadi saja. Rintik gerimis tampaknya di daerah timur sudah mulai turun walau mungkin tak merata di setiap zonanya. Dengan kondisi tetap berdiri di dalam bus dari Alun – Alun Kota Bandung. Hehe tempat duduk bus penuh. Ini bus menggunakan bus damri terbaru dengan minim tempat duduk hanya ada beberapa baris saja. Kebanyakan penumpangnya berdiri berjubel satu sama lain dengan aroma tubuh yang berbeda – beda. Menyeruak terhirup hidung.
Mendung semakin menjadi saja rupanya tanpa toleransi ketika itu. Kusempatkan membalas chating dia via bbm yang belum kubalas sebelumnya. “neng, disitu hujan nggak?”. Tak ada balasan yang pasti. Dia tidak ada pulsa sms sedangkan aku hanya ada pulsa sms, kuota habis beluk sempat ku isi ulang rupanya.

Suasana dengan mendung masih dominan ketika sampai di tempat tujuan. Pertama kali juga kaki saya menginjak di tempat indah itu. Ruang masyarakat yang bagus dengan polesan modernisasi nyentrik ala Walikota Bandung Ridwan Kamil. Desain yang memukau dengan area yang lumayan luas nampaknya membuat nyaman pengunjung dan begitu leluasa rupanya. Keadaan tidak terlalu ramai memang, padahal hari Minggu. Mungkin efek cuaca yang tidak mendukung. Ahh peduli amat dengan hal itu. Rupanya aku harus menunggu sejenak kedatangannya. Tak apalah, fikirku. Dengan kondisi mood tidak stabil antara memang grogi dan perasaan lain yang tidak jelas ternyata membuatku kaku. Memalukan saja rupanya, hahaa. Sendirian tanpa seorangpun yang bisa diajak berbicara, mereka sibuk masing – masing dengan pasangannya. Gue jomblo. Tepak jidat.
Akhirnya engkau datang neng. Jalannya yang santai dengan balutan pakaian yang serba tertutup dari ujung kepala sampai kaki, entah apa namanya. Warnanya pun tak begitu kuperhatikan saat itu. Hanya parasnya yang pandangi saja. Parasnya manis dengan air muka yang masing asing bagiku. Anggun teduh menghiasi wajah yang pada dasarnya baby face. Senyumnya masih tipis dengan kedua bibir tipis pula. Tanpa polesan pada bibirnya atau tidak aku tak begitu paham mengenai itu, yang jelas begitu natural kelihatannya. Pandangan matanya teduh semu sayu melihatku. Di payungi dua alis tipis saling berjauhan rupanya. Yang menarik bagiku, hidung kecil mungil setaraf pesek diapit kedua belah pipi yang tembem standar. Hidungnya lucu di mataku, menarik sangat. Itu yang kusuka darinya. Dagunya tak begitu lancip tapi agak datar sedikit. Mendekat kemari dengan agak canggung. Aku lekas berdiri menyambut kedatangannya dengan senyumku yang tak jelas seperti apa ketika itu. Ku sambut dengan kedua tangan terbuka menyalami tangannya. Telapak tangannya lembut, tapi hanya sejenak kami berjabat tangan.
Gerimis mulai turun sedikit demi sedikit. Agak panik awalnya karena tak paham dimana tempat berteduh. Terbersit menuju ke Masjid Agung di sebelah barat Alun – Alun Ujung Berung untuk berteduh sekalian menunaikan sholat Dzuhur. Ku bawa dia berteduh sambil mencari tempat yang agak nyaman, mukanya yang polos lucu itu menumbuhkan perasaan yang aneh di hatiku #eaa. “Disini saja neng, aku hendak sholat dulu, ditunggu sebentar ya neng”.
Dia masih menunggu rupanya.

Kubuka obrolan ngalor ngidul tidak jelas. Entah seharusnya obrolan apa yang dibicarakan kepada seorang wanita cantik di sisiku kala itu, entah dengan tema apa. Pikiranku blank, aku tak berpengalaman mengenai hal itu, sungguh. Daripada suasana diam sepi tanpa suara. Terpaksa harus mencairkan suasana sejenak biar tidak jenuh.

Akhirnya perbincangan kami menyambung pula rupanya wkwkwk. Wajahnya yang sepertinya masih malu – malu untuk saling pandang membuatku harus memandang ke sisi kanan ketika dia berbicara. Manis dari samping juga. Dahi dan hidung serta ujung bibir jatuh satu garis, pesek juga tampaknya engkau neng. Dia hanya tertawa ketika aku sebutkan hal itu. Gaya bicaranya aku suka. Pembawaan yang mulai dewasa juga aku suka. Ahh pokonamah suka segalanya. Entah kenapa.
Sepertinya kualifikasiku. Mendekati sempurna dengan kemauanku. Dia sunda aku jawa. Tidak masalah dengan beda suku. Aku berharap ada sebuah kelanjutan yang baik dengan izin Allah. Aku ikuti skenario Mu. Apabila baik untukku dan keluargaku, baik untuknya dan keluarganya, maka dekatkanlah kami. Aamiin

Ujung Berung, 02 Oktober 12:51

Ini yang sebenarnya aku perjuangkan. Mimpi yang menepi ketika tidurku adalah sebuah kenyataan. Ini nyatanya. Aku tak menyesali pertemuan.
Hanilestari

Iklan

Penulis:

Asal Kebumen, mencintai gadis Garut (h). Penyuka tahu isi dan pesekmu. Persiapan Mahar Ar Rahman, 2021 Insya Allah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s