Diposkan pada Cerita

Mencintai Dalam Diam

Maaf mungkin dalam hal penulisan masih nglantur kemana mana, lama pikiran sastra terhapus oleh waktu. Kemalasan melunturkan daya ingat dan imajinasi yang melekat.

Mencintai dalam diam. Mungkin sebuah judul yang sekiranya pasaran, dimana-mana memang ada. Begitu juga ketika search di Google. Tapi mungkin setiap judul yang sama sepertinya memiliki masing – masing cerita. Ada keunikan tersendiri yang dibalut di dalamnya. Entahlah,,,

Yang pasti, aku tak begitu mau membahasa lebih dalam mengenai hal itu. Entahlah tapi begitu kunikmati.

Manusia memiliki jiwa dan hati. Dianugrahi perasaan yang disebut cinta. Itusuatu kata yang tak asing tapi banyak makna, setiap yang diselipkan hati memilii masing-masing pemahaman tentang itu. Baiklah akan ku kupas disini mengenai hal itu.

Bismillah,

Cinta adalah cinta yang menyusup dalam diriku saat ini. Menyusup perlahan mempengaruhi segala titik syaraf hingga yang paling sensistif, hati. Begitu rentan akan hal itu. Mungkin itu adalah sebuah kejadian normal, manusiawi, semuanya mengalami hal itu walau mungkin kadang beda istilah tapi satu makna.

Sepertinya perkenalan adalah sebuah jalan pembuka yang sederhana antara dua insan paling sedikit dan banyak orang secara luas. Perkenalan adalah antara aku dan kamu ketika itu. Dunia begitu terasa sempit saat ini. Dibatasi oleh ruang dan waktu yang diselubungi internet. Semua berubah dengan meminimalisir pengorbanan secara tenaga tapi beresiko terhadap pengaruh jiwa. Aku yang mengenalmu dari satu unit HP bermerk China, Cross. Warna putih dipadukan kuning beberapa garis.

Awalnya itu mungkin sebuah kebetulan belaka yang tak ada unsur kesengajaan sam sekali. Perkenalan dengan penuh kecanggungan dan banyak pikiran – pikiran yang berbagai macam. Hmm

Bulan pertama, kedua, ketiga dan sampai beberapa bulan dalam periode 2015. Memasuki akhir bulan sebelum Desember entah November atau entah Oktober, aku lupa akan hal itu. Sepertinya begitu cepat berlalu. I don’t care.

Pagi adalah pagi begitu siang sore dan malam. Dengan kehadiran tanpa sebuah pertemuan memang suatu yang bukan aneh bagiku, hal biasa saja yang tak berpengaruh apa – apa. Aku bersifat netral penuh ketangguhan. Waktu adalah waktu yang stagnan dan sensitif atau diri manusia yang sensitif hingga tak konsisten, aku.

Hari menjadi sebuah rasa sepi yang menepi perlahan menghauskan. Menjadi sebuah rindu tak beralasan. Ketika itu adalah bagaimana tetap konsisten untuk tidak begitu sensitif terhadap rasa cinta, hahaaa. Tapi apa arti sebuah durasi waktu yang memang begitu sering berinteraksi setiap waktu, entah apapun yang dibahas. Memang menjadi sebuah keanehan saja, menjadi rasa sayang yang memang susah dilawan, dihentikan, dibuang atau entahlah bahasa lainnya apa itu.

Menjadi rasa sayang, kasih sayang, begitu menyayangi.

Pertemuan adalah sebuah harapan yang memang sering aku lontarkan sesering mungkin, sering. Bagaimana menanggapi dalam jauh di balik layar HP. Dibungkus rasa malu pada masing – masing menjadi sebuah moment yang begitu beuh euh. Rasa malu pada dua manusia tanpa banyak harapan, hanya bertemu saja.

Mencintai dalam diam menjadi salah satu hal yang kulakukan. Biarpun lelaki sepertinya punya banyak hak dan kekuasaan akan diri sendiri, aku begitu membatasi. Cinta bagiku memang merubah persepsi tak seperti dulu bagaiman punya pacar, perselingkuhan dahulu memberikan pelajaran berharga yang memang tak akan terlupakan. Begitu mendewasakanku hingga saat ini. Cinta bukanlah antara aku dan kau saja tanpa sepengetahuan pihak lain. Mungkin lebih tepatnya antara kedua keluarga, minimal titik awal diketahui saudara, haha. Cinta bagiku saat ini tak sesederhana pemikiran anak – anak yang masih duduk dibangku sekolah. Seserius aku padamu, tak perlu ada sebuah lontaran kata cinta dan kasih sayang. Hanya ingin kau tahu bahwa aku sayang padamu, itu.

Itu yang membuatku tak lekas mengatakan.

Pertemuan memang sudah terjadi dibawah gerimis kecil dan awan mendung ketika itu. Di sisi rumah Allah yang menjadikan harapanku kita dihalalkan di rumah tersebut walau bukan di tempat itu, cieee aamiin aamiin. Masih terbungkam saja.

Umur, cita – cita, tanggung jawab dan pekerjaan. Maih begitu banyak opsi yang masih terngiang di fikiranku. Keluarga secara pribadi, aku tak mau begitu egois dalam hal itu, sebisa mungkin diprioritaskan lebih utama biarpun perlahan. Ya asal saja kau tahu, akau tak mengesampingkan perasaanku terhadapmu. Begitu berat suatu ketika harus putus walau itu sebuah komunikasi barangkali sehari atau dua hari. Berat rasanya walau memang bisa ditahan.

Bagaimanapun pula aku masih konsisten dengan pendirian tanpa ikatan pacaran tapi aku menyayangimu. Dan konsisten yang kuharapkan darimu adalah, kau tidak akan pacaran dengan siapapun, itu.

Dengan arti sorot mata dan tata bahasa komunikasi, aku tahu kau memiliki rasa yang sama, sama – sama sayang.

sama – sama sayang? Benarkah seperti itu?

Biarlah waktu berkata apa, hanya ku kuatkan dengan do’a dari potongan ayat Al Qur’an sebanyak 7 kali bacaan selepas sholat Fardu, aamiin aamiin aamiin.

Itu mencintai diam – diam, khawatir sangat akan ada lelaki di luar sana.

yts. hani lestari


Yang tau jeup ya

Iklan

Penulis:

Asal Kebumen, mencintai gadis Garut (h). Penyuka tahu isi dan pesekmu. Persiapan Mahar Ar Rahman, 2021 Insya Allah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s