Diposkan pada Cerita

Mengizinkankah Engkau Yaa Robb?

Kota Bandung di Minggu, 08 Januari 2017. Sore yang begitu cerah dengan langit putih bersih tiada hilir mudik segerombolan awan menggantung. Langit masih membiru walau agaknya mulai temaram sedikit demi sedikit. Perlahan mentari beranjak pergi dari kebersamaan dengan siang yang panas menyengat. Hembusan angin masih seperti biasanya, normal. Sejuk menyeruak ke dada. Menghempas kebimbangan kalbu.

Sore itu dengan wajah berseri – seri tanpa beban, senyum lepas menghempas rasa jenuh dan malas yang menyelinap lekas hengkang dariku. Hari yang terasa begitu berbeda rupanya. Aku akan menemuimu dari sebaris janji yang ku kuatakan padamu di minggu kemarin. Iya, aku menepatinya, bukan sebuah candaan belaka. Aku menseriusinya walau mungkin persepsimu itu adalah candaankan? Nyatanya engkau agak terkejut ketika aku mengabarimu “aku kesitu sekarang, jangan pulang dulu ya neng 😉 “. Walau mungkin engkau sebenarnya tak begitu siap bukan? Rasa malu yang masih tetap melekat padamu tentang sebuah pertemuan untuk kedua kalinya. Tapi apa boleh buat, akankah kau meninggalkanku pulang ketika itu? Membiarkanku sendiri termenung dan tengok kanan kiri sembari membawa bingkisan besar dalam kresek plastik hitam.

Sesampainya di dekat pasar baru, kuparkirkan motor matic MIO J Putih. Berhenti sejenak menjauh dari area parkir untuk mengecek TAB dan HP. Melanjutkan berjalan masuk ke area perbelanjaan pasar baru. Meniti tangga sebelah kana, sembari tengok kanan kiri dimana Fahira, ternyata pas di sebelah kiriku, kulayangkan pandanganku ke dalam area toko Fahira, dimana engkau neng. Ehh ada tuh dengan muka yang memang cantik hehe kerudung merah. Sekejap aku mempercepat langkah menjauhi area tersebut. Dengan tangan bergetar takut kepergok, pegang HP pun sampai mau jatuh hehe. Ada disana ternyata. Kutinggalkan sejenak sampai tutup toko. Berputar – putar ke dalam sambil melihat – lihat batik.

Dan

Nampaknya ada senyum yang terurai dari bibirmu mungilmu nampak dari kejauhan, dari lantai satu Pasar Baru tepat depan Fahira, tempatmu bekerja. Dengan senyum yang memporakporanda perasaanku rasanya hmm terbungkam, begitu sulit dikalimatkan. Balutan pakaian yang pas, aku agak lupa sepertinya dengan corak pakaianmu, baju dan juga rok. Seingat waktu itu dengan hijab merah bata menghias pas dan manis di kepalamu. Baju apa waktu itu dengan lengan panjangkah? Lupa. Rok corak bunga yang indah bagiku tampak serasi sangat. Aku tak begitu fokus dengan hal itu. Hanya kupandangi saja wajahmu, senyummu. Dari dahi, kedua matamu, pipi, bibir dan hidung.

Iya cuma itu, dengan memperhatikan bibirmu ketika berbicara. Mata yang berkilau, ada cahaya disana, mata air yang tak redup. Dipayungi dua alis yang tipis bulan sabit saling berjauhan. Pipi yang tak begitu penuh rupanya, masih cantik sangat, bagiku. Hidung mungil pesek yang diapit kedua bongkah pipi. Dengan ada suatu tanda goresan halus di pipi sebelah kiri. Tak mengurangi anggunnya dikau neng. Cantik.

Dengan senyum sendiri layaknya kebahagiaan yang tak tergantikan. Entahlah. Intinya aku merasa bahagia waktu itu. Beban serasa tidak ada sama sekali.

Ku ajak lekas pulang, hampir Maghrib rupanya . Ku sodorkan helm putih SNI.
“Padahal da nggak pake helm juga gapapa mereun.” “Dipake saja neng, buat  Hahahaa.Dengan wajah bingung bagaimana cara membonceng. Apakah menyamping atau mengahadap ke depan da pake rok tea.”Masanto,  iii gimana ini duduknya” “hehe gimana atuh, menyamping ajah juga gapapa neng, tapi senyamanmu ajah gimana duduknya” Akhirnya duduk mengahadap kedepan.

Di perjalanan kami ngobrol sedapatnya pembicaraan haha asal sambung menyambung, menjadi satu itulah Indonesia haha. Kuajak menyusuri Jl. Otista, belok kiri ke Jl. Pungkur, belok kiri lagi masuk Jl. Dewi Sartika, belok kanan memotong jalan keluar di Jl. Pungkur ambil lurus belok kiri mampir ke Roti Bakar depan Pasar Ancol Karapita. Dengan bingung dan ngomel dikit, katanya ke Karapitan dan cuma lewat doank ko malah kesini? Hihi seseurian weh saya mah.

Yang begitu beda dari yang lain itu, dan bikin rasanya aku beda. Sholat Maghrib nggak bisa ditunda dulu, keren neng. Aku suka hal itu. Biarpun adzan belum berkumandang juga. Nurut saja. Tukang rotina bageur deui, mau dibayar dulu nanti ajah ceunah selesai sholat. Wios atuh.

Ketika kulihat dari luar masjid itu, kupandangi gerak tubuhmu ” Ini yang kumau Yaa Robb”

Selesai itu sembari mengambil roti bakar dan membayar. Langsung meluncur ke Jl. Karapitan melewati kantor kerja, diajak mampir nggak mau, malu iii malu gakmau hahaaa. Belok kiri ke Jl. Cikawao – Jl. Lengkong Besar – Melong Kidul, kutunjukan kost ku, belok kiri Melong Kaler – Cikawao – Lengkong Besar – Jl. Ciateul – Jl. Otista, berhenti di gang sebelah kanan kawasan lapangan Tegalega Bandung.

“II ini kemana, ko muter – muter asa tadi udah lewat sini ii masanto mah” wkwkwk

Aku diajak hayu ke rumah, tidak malau ahh, belum siap kesana, aku menghargai pendidikan keluargamu.

Pulang. Dengan malam yang semakin gelap gulita. Suasana kota yang nampaknya tak pernah mati, cahaya lampu bertebaran di sepanjang jalan. Menapaki jalanan,macet sejenak. Membebaskan asa, melampiaskan kebahagiaan ini Yaa Rob. Senyum yang cerah, mood yang sempurna. Barakallah.

Dia yang kumau Yaa Robb, mengizinkankah Engkau?

Iklan

Penulis:

Asal Kebumen, mencintai gadis Garut (h). Penyuka tahu isi dan pesekmu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s