Diposkan pada Cerita, Ilusi dan Imajinasi

Teh Manis Hambar



Teh ini mulai terasa hambar. Manisnya menguap bersama kepulan asap tipis. Terikat mengudara entah pergi kemana bersama angin yang berhembus. Beberapa kali diseduh tetap saja tak ada manis, cuma diawal. Teh ini menjadi pahit biarpun menjadi hangat sekalipun. Sampai habis barangkali. Ini teh buatanmukah atau tangan wanita lain?
Seduhanmu tak senikmat pertama kali atau beberapa kali terakhirini. Ada apakah?
Lelahkah? Atau ada hal lain yang tak sejalan dengan perasaanmu saat ini? Masih diam saja, kenapa diam saja?
Rumput tetangga tentunya lebih hijau bukan? Dibanding aku mungkin lebih kurang daripada yang lain.
Apa aku harus beranjak menyeduh teh manis lain sementara disini jalan terbuka untukmu.
Membuka hati, tak semudah membuka pintu di rumah. Dengan pemikiran yang tak mudah. Jalan skenario yang rumit sedemikian rupa.
Atau?
Masih ada malam untuk tertidur, untuk bermimpi. Untuk bersentuhan dengan dingin yang berbeda. Dengan nuansa hati yang berbeda.
Aku berhenti sejenak, tak akan menyeduh teh manismu untuk beberapa saat. Butuh ketenangan, rileks, butuh kesendirian biarpun sepi mencekam. Dingin meronta menyusuk kulit. Ada rembulan yang tersenyum. Kejora yang bernyanyi di dari serpihan kaca sebelah yang pecah. Ada rindu, ahh bukan rindu.
Tak usah manis – manis, yang penting setia.
Iklan

Penulis:

Asal Kebumen, mencintai gadis Garut (h). Penyuka tahu isi dan pesekmu. Persiapan Mahar Ar Rahman, 2021 Insya Allah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s