Diposkan pada Cerita, Ilusi dan Imajinasi

Manis Hambar

Pagi tengah beranjak pergi, menjemput siang di ujung langit sebelah timur. Cahaya akan lebih silau beberapa waktu lagi. Yang pudar akan bersinar. Diwarnai birunya langit hari ini. Dihiasi siluet awan putih yang beradu di udara, terbawa angin. Menjauhiku.

Bagaimana denganmu?

Apakah engkau akan begitu pula? Mengikuti awan terbang menjauh dariku, seketika atau beberapa waktu lagi? Pagi tak ada yang secerah waktu kemarin. Secerah – cerahnya mentari tak mampu ku bangkit karena itu. Kabarnya hambar, kabarnya hilang. Senyumnya lesu, kusut dikontaminasi lingkungan pekerjaan. Janjinya menyusut. Mengempis bahkan akan lenyap, disentuh hati lain yang lebih. Di atas keadaanku. Komitmennya sebuah cerita. Karangan semata untuk penuhi wall komputer, memenuhi cerita hidup.

Angin malam penenang tidur, dimana dikau? Tak mampu menyentuh hati lagi yang tengan tertidur pulas? Menyentil sedikit. Terbangun dari mimpi, barangkali. Sekedar mengingat sebaris nama, dua kata di jam sepertiga  malam terakhir.

Lelah membalut, letih menyelinap, bosan membalut hati dan kondisi.

Seperduli apakah aku akan sebuah keadaan? Dari hal kecil yang sering terlupa, hingga hal besar yang sangar. Problema yang meruntuhkan keteguhan. Rasa khawatir yang menyindir dengan bahasa halus yang tak bermankna. Dari bisikan yang lembut, namamu.

Teh manis tak terasa manis, hambar menyebar di permukaan gelas hingga tenggelam. Berenang meratakan kehambaran. Masih warna yang sama dengan teh manis, cagkir yang sama dan …

Dengan gembira menyelinap waktu itu di dasar hati. Tanpa ku berkata sepatah kata. Ada teh manis hangat di hadapanku. Secangkir teh manis celup, dengan manis yang khas semanis wajahmu waktu itu. Kekentalan yang stabil dengan kesetiaan. Senyum sederhana yang berwarna, warna hidupku.

Ini bukan lagi, dengan nuansa berbeda tak seperti aslinya. Biarpun masih sentuhanmu, rasanya hambar. Tak ada yang pas. Ukuran yang kurang bahkan berlebihan. Senyumnya terpaksa, manisnya hambar.

Aku ingin teh manis yang seperti dulu. Sederhana saling mengisi.

Iklan

Penulis:

Asal Kebumen, mencintai gadis Garut (h). Penyuka tahu isi dan pesekmu. Persiapan Mahar Ar Rahman, 2021 Insya Allah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s